Contoh Surat Pengunduran Diri Saat Training: Resign dengan Baik & Profesional

Table of Contents

Contoh Surat Pengunduran Diri Masa Training
Image just for illustration

Mengundurkan diri atau resign dari pekerjaan adalah keputusan besar, apalagi jika itu terjadi saat kamu masih dalam masa training atau masa percobaan. Situasi ini mungkin terasa canggung atau membingungkan, tapi kamu punya hak untuk melakukannya kok. Ada banyak alasan kenapa seseorang memutuskan untuk berhenti sebelum masa training-nya selesai. Mungkin job desk-nya tidak sesuai ekspektasi, budaya perusahaan kurang cocok, atau malah dapat tawaran yang lebih baik dari tempat lain. Apapun alasannya, prosesnya tetap perlu dilakukan dengan profesional.

Meskipun masih dalam masa percobaan, membuat surat pengunduran diri yang baik tetap penting. Surat ini berfungsi sebagai dokumen resmi yang memberitahu perusahaan tentang niatmu untuk berhenti dan kapan tanggal efektifnya. Ini juga menjadi catatan formal dalam file kepegawaianmu di perusahaan tersebut.

Kenapa Mengundurkan Diri Saat Masa Training?

Ada sejuta alasan di balik keputusan seseorang untuk mengundurkan diri, bahkan ketika baru saja memulai pekerjaan dan masih dalam masa training. Alasan-alasan ini sangat personal dan bervariasi, namun ada beberapa yang cukup umum terjadi. Memahami alasan-alasan ini bisa membantu kamu merumuskan surat pengunduran diri yang jujur namun tetap profesional.

Salah satu alasan paling sering adalah job desk atau peran yang dijalani ternyata tidak sesuai dengan yang dibayangkan saat wawancara. Mungkin ekspektasimu terhadap pekerjaan tersebut meleset jauh dari kenyataan di lapangan. Bisa juga karena skill atau minatmu ternyata tidak cocok dengan tuntutan pekerjaan sehari-hari. Kamu merasa tidak berkembang atau bahkan merasa salah jurusan.

Alasan lain yang tak kalah penting adalah budaya perusahaan. Masa training seringkali menjadi periode adaptasi dan pengenalan terhadap lingkungan kerja. Jika budaya kerja di sana terasa toxic, tidak suportif, atau sangat berbeda dengan nilai-nilai pribadimu, bertahan di sana bisa jadi sangat melelahkan secara mental. Mungkin kamu merasa tidak nyaman dengan cara komunikasi tim, gaya kepemimpinan, atau bahkan etos kerja yang ada.

Tidak jarang juga seseorang mengundurkan diri karena mendapat tawaran kerja lain yang dianggap lebih baik. Tawaran ini bisa datang dari perusahaan impian, posisi yang lebih sesuai dengan karier jangka panjang, atau bahkan gaji dan benefit yang jauh lebih menarik. Ini adalah hal yang wajar dalam dunia kerja yang dinamis, di mana kesempatan bisa datang kapan saja. Saat tawaran itu datang di tengah masa training, keputusan untuk pindah seringkali sulit dihindari jika tawaran baru tersebut memang sangat menggiurkan dan prospektif.

Masalah pribadi atau kondisi mendesak juga bisa menjadi alasan. Mungkin ada perubahan rencana pribadi yang mendadak, masalah kesehatan, atau kepentingan keluarga yang memerlukan perhatian lebih. Hal-hal ini bisa membuat kamu tidak bisa melanjutkan pekerjaan di perusahaan saat ini, terlepas dari apakah kamu suka pekerjaannya atau tidak.

Terakhir, bisa jadi alasan yang lebih sederhana: pekerjaan itu ternyata tidak cocok secara keseluruhan. Kamu merasa passion-mu tidak di sini, atau kamu menyadari bahwa jalur karier ini bukanlah yang kamu inginkan. Masa training memang seringkali berfungsi sebagai masa penjajakan bagi kedua belah pihak, baik kamu maupun perusahaan, untuk melihat apakah ada kecocokan jangka panjang. Jika di tengah jalan kamu merasa tidak cocok, mengundurkan diri adalah langkah yang logis daripada memaksakan diri dan akhirnya tidak maksimal.

Apapun alasanmu, penting untuk menyampaikannya dengan cara yang baik dan tetap menjaga nama baik. Proses pengunduran diri yang profesional akan meninggalkan kesan positif, yang bisa berguna untuk networking di masa depan atau bahkan jika suatu saat kamu ingin kembali melamar di perusahaan tersebut dalam posisi yang berbeda (meskipun ini jarang terjadi, tapi bukan tidak mungkin).

Bolehkah Mengundurkan Diri Saat Masa Training?

Pertanyaan ini sering muncul dan jawabannya adalah ya, boleh. Baik karyawan maupun perusahaan punya hak untuk mengakhiri hubungan kerja selama masa percobaan atau training, kecuali jika diperjanjikan lain dalam surat kontrak kerja. Masa percobaan memang dirancang sebagai periode evaluasi bagi kedua belah pihak. Perusahaan mengevaluasi kinerja dan kecocokanmu, sementara kamu juga mengevaluasi apakah perusahaan dan pekerjaan itu cocok untukmu.

Dalam hukum ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (yang sebagian aturannya diubah oleh UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan), Pasal 60 mengatur tentang masa percobaan. Intinya, pada masa percobaan, pengusaha dilarang membayar upah di bawah standar yang berlaku. Nah, terkait pengakhiran hubungan kerja di masa ini, baik pengusaha maupun pekerja dapat mengakhiri hubungan kerja tanpa perlu mencantumkan alasan spesifik dan biasanya tanpa adanya kewajiban uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, atau uang penggantian hak, kecuali ada aturan lain dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Yang perlu kamu perhatikan adalah surat kontrak kerja yang kamu tanda tangani. Baca kembali dengan teliti, terutama pasal-pasal yang mengatur tentang masa percobaan dan pengakhiran hubungan kerja. Beberapa kontrak mungkin memiliki klausul khusus terkait pengunduran diri di masa training, misalnya kewajiban mengganti biaya training atau induksi awal jika kamu berhenti sebelum jangka waktu tertentu (misalnya 3 bulan atau 6 bulan pertama). Namun, klausul semacam ini harus jelas tertulis dan disetujui bersama dalam kontrak. Jika tidak ada klausul tersebut, secara umum kamu bebas mengundurkan diri.

Penting untuk diingat bahwa masa percobaan atau training ini biasanya tidak dapat diberlakukan untuk pekerja dengan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) yang memiliki jabatan tertentu yang dikecualikan oleh undang-undang, atau untuk perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT). Masa percobaan hanya berlaku untuk calon karyawan PKWTT pada umumnya, dan durasinya paling lama 3 bulan.

Jadi, secara legal, mengundurkan diri saat masa training adalah hakmu. Namun, memastikan kamu melakukannya sesuai prosedur perusahaan dan tetap menjaga profesionalisme adalah kewajiban moral yang akan sangat membantumu di masa depan. Surat pengunduran diri adalah bagian penting dari proses ini.

Apa Saja yang Perlu Ada di Surat Pengunduran Diri Masa Training?

Meskipun situasinya agak spesifik (masa training), format dan isi surat pengunduran diri umumnya sama dengan surat pengunduran diri pada umumnya. Namun, ada beberapa penekanan yang bisa kamu berikan. Tujuannya adalah agar suratmu jelas, profesional, dan to the point.

Berikut adalah komponen-komponen penting yang harus ada dalam surat pengunduran diri saat masa training:

  1. Kepala Surat / Kop Surat (Opsional): Bisa pakai kop surat sederhana dengan nama dan alamatmu, tapi ini tidak wajib. Cukup cantumkan kota dan tanggal pembuatan surat.
  2. Tanggal: Tanggal surat ini dibuat.
  3. Penerima Surat: Tujukan surat kepada pihak yang berwenang, biasanya Manajer HRD atau atasan langsungmu (Manajer Departemen). Gunakan format “Yth.” diikuti jabatan dan nama perusahaan.
  4. Subjek Surat: Buat subjek yang jelas, misalnya “Surat Pengunduran Diri”.
  5. Salam Pembuka: Gunakan salam formal seperti “Dengan hormat,” atau “Kepada Yth. Bapak/Ibu [Nama Atasan/HRD],”
  6. Isi Surat:
    • Pernyataan Pengunduran Diri: Nyatakan dengan jelas bahwa kamu mengundurkan diri. Sebutkan nama lengkap, jabatan (jika ada, atau sebutkan sebagai [Posisi] dalam masa training), dan nama perusahaan.
    • Tanggal Efektif: Ini sangat penting. Sebutkan tanggal terakhir kamu akan bekerja. Di masa training, biasanya tidak ada kewajiban notice period 1 bulan seperti karyawan tetap (sesuai Pasal 60 UU Ketenagakerjaan), kecuali kontrakmu menyatakan lain. Kamu bisa mengusulkan tanggal efektif yang segera atau dalam beberapa hari, disesuaikan dengan diskusi lisan dengan atasan.
    • Alasan Pengunduran Diri (Opsional tapi Dianjurkan): Kamu bisa memberikan alasan singkat dan umum (misalnya, “mendapatkan kesempatan yang lebih sesuai,” “alasan pribadi,” “tidak cocok dengan peran”). Hindari mencantumkan detail negatif atau keluhan tentang perusahaan, atasan, atau rekan kerja. Jaga profesionalisme.
    • Ucapan Terima Kasih: Sampaikan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan selama masa training. Ini menunjukkan sikap positifmu.
    • Permohonan Maaf: Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul akibat pengunduran dirimu, atau jika ada kesalahan selama masa training.
    • Harapan: Sampaikan harapan baik untuk kemajuan perusahaan di masa depan.
  7. Salam Penutup: Gunakan salam formal seperti “Hormat saya,” atau “Dengan takzim,”.
  8. Nama Lengkap & Tanda Tangan: Tulis nama lengkapmu dan bubuhkan tanda tanganmu.

Berikut adalah tabel ringkasan komponen surat:

Komponen Keterangan Penting?
Kota, Tanggal Tempat dan tanggal surat dibuat. Ya
Penerima Surat Ditujukan kepada HRD atau Atasan Langsung (sebutkan jabatan & perusahaan). Ya
Subjek Surat Jelas menyatakan tujuan surat (misal: Surat Pengunduran Diri). Ya
Salam Pembuka Salam formal (misal: Dengan hormat). Ya
Pernyataan Diri Nama, jabatan (jika ada/masa training), nama perusahaan, pernyataan resign. Ya
Tanggal Efektif Tanggal hari kerja terakhir. Penting untuk dicatat. Ya
Alasan (Opsional) Singkat, umum, dan positif (jika dicantumkan). Hindari detail negatif. Dianjurkan
Ucapan Terima Kasih Apresiasi atas kesempatan training. Dianjurkan
Permohonan Maaf Atas ketidaknyamanan atau kesalahan (jika ada). Dianjurkan
Harapan untuk Perusahaan Semoga perusahaan maju. Opsional
Salam Penutup Salam formal (misal: Hormat saya). Ya
Nama Lengkap & TTD Identitas dan validasi surat. Ya

Pastikan semua informasi, terutama nama, jabatan (jika relevan), nama perusahaan, dan tanggal efektif, tertulis dengan benar.

Contoh Surat Pengunduran Diri Masa Training

Berikut adalah beberapa contoh surat pengunduran diri yang bisa kamu gunakan sebagai referensi, disesuaikan dengan beberapa kemungkinan alasan umum. Ingat, ganti bagian yang di dalam kurung siku [] dengan data pribadimu dan informasi perusahaan.

Contoh 1: Alasan Pribadi Umum

Surat ini cocok digunakan jika kamu ingin mengundurkan diri karena alasan pribadi yang tidak perlu dijelaskan secara rinci.

[Kota Tempat Tinggal], [Tanggal Pembuatan Surat]

Yth.
Bapak/Ibu Manajer HRD
[Nama Perusahaan]
di Tempat

Dengan hormat,

Melalui surat ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: [Nama Lengkap Anda]
Jabatan: [Tuliskan posisi Anda saat training, misal: Trainee Marketing, Calon Staf Administrasi]
Departemen: [Sebutkan departemen Anda, jika ada]

dengan ini bermaksud mengajukan permohonan mengundurkan diri dari posisi [Posisi Anda saat training] di [Nama Perusahaan], terhitung efektif sejak tanggal [Tanggal Efektif Pengunduran Diri Anda].

Keputusan ini saya ambil berdasarkan pertimbangan pribadi yang mendesak dan tidak dapat diganggu gugat.

Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk mengikuti masa training dan belajar di [Nama Perusahaan]. Saya juga memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan selama saya berada di sini.

Saya berharap [Nama Perusahaan] dapat terus berkembang dan mencapai kesuksesan di masa mendatang.

Atas perhatian Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

(Tanda Tangan)

[Nama Lengkap Anda]

Surat Resign Training Pribadi
Image just for illustration

Contoh 2: Alasan Mendapat Tawaran Lain yang Lebih Sesuai

Contoh ini bisa dipakai jika kamu resign karena mendapatkan tawaran pekerjaan lain yang lebih cocok. Kamu bisa menyampaikannya secara singkat dan profesional.

[Kota Tempat Tinggal], [Tanggal Pembuatan Surat]

Yth.
Bapak/Ibu Manajer [Nama Atasan Langsung, atau Manajer HRD]
[Nama Perusahaan]
di Tempat

Dengan hormat,

Saya yang bernama [Nama Lengkap Anda], yang saat ini berstatus sebagai [Posisi Anda saat training] di departemen [Sebutkan departemen Anda, jika ada], bermaksud memberitahukan bahwa saya akan mengundurkan diri dari [Nama Perusahaan].

Pengunduran diri ini akan efektif berlaku mulai tanggal [Tanggal Efektif Pengunduran Diri Anda]. Keputusan ini saya ambil karena saya mendapatkan kesempatan lain yang lebih sesuai dengan minat dan arah pengembangan karier saya di masa depan.

Saya sangat menghargai kesempatan yang telah diberikan oleh [Nama Perusahaan] selama saya menjalani masa training di sini. Banyak hal berharga yang saya pelajari, dan saya berterima kasih atas bimbingan yang diberikan. Saya juga memohon maaf apabila ada hal atau tindakan saya yang kurang berkenan.

Saya berharap yang terbaik untuk [Nama Perusahaan] dan semoga terus maju.

Atas perhatian dan pengertian Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

(Tanda Tangan)

[Nama Lengkap Anda]

Surat Pengunduran Diri Alasan Tawaran Lain
Image just for illustration

Contoh 3: Alasan Lingkungan Kerja Kurang Sesuai

Jika alasanmu terkait ketidakcocokan dengan lingkungan atau budaya kerja, kamu bisa menyampaikannya secara halus tanpa terkesan menyalahkan.

[Kota Tempat Tinggal], [Tanggal Pembuatan Surat]

Yth.
Bapak/Ibu Manajer HRD
[Nama Perusahaan]
di Tempat

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, [Nama Lengkap Anda], yang saat ini sedang mengikuti masa training sebagai [Posisi Anda saat training] di [Nama Perusahaan], dengan berat hati menyampaikan permohonan pengunduran diri saya.

Tanggal terakhir saya akan bekerja di [Nama Perusahaan] adalah [Tanggal Efektif Pengunduran Diri Anda].

Setelah melalui pertimbangan yang matang selama masa training ini, saya merasa bahwa lingkungan kerja dan budaya yang ada kurang match dengan gaya kerja dan kebutuhan pengembangan diri saya saat ini. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencari lingkungan yang lebih sesuai.

Saya berterima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menjadi bagian dari [Nama Perusahaan] dalam waktu singkat ini. Saya juga memohon maaf apabila selama masa training saya ada melakukan kesalahan atau menimbulkan ketidaknyamanan.

Saya berharap [Nama Perusahaan] dapat terus berkembang dan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Atas perhatian dan pengertian Bapak/Ibu, saya sampaikan terima kasih.

Hormat saya,

(Tanda Tangan)

[Nama Lengkap Anda]

Resign Letter Training Culture Fit
Image just for illustration

Contoh 4: Versi Singkat & Padat

Jika kamu ingin surat yang sangat to the point dan tidak ingin memberikan alasan spesifik.

[Kota Tempat Tinggal], [Tanggal Pembuatan Surat]

Yth.
Bapak/Ibu Manajer HRD
[Nama Perusahaan]
di Tempat

Dengan hormat,

Saya, [Nama Lengkap Anda], yang saat ini menjalani masa training sebagai [Posisi Anda saat training] di [Nama Perusahaan], dengan ini menyatakan mengundurkan diri dari perusahaan.

Pengunduran diri ini akan berlaku efektif mulai tanggal [Tanggal Efektif Pengunduran Diri Anda].

Saya berterima kasih atas kesempatan yang diberikan selama masa training ini dan memohon maaf atas segala kekurangan.

Hormat saya,

(Tanda Tangan)

[Nama Lengkap Anda]

Simple Resignation Letter Training
Image just for illustration

Pilih contoh yang paling sesuai dengan situasimu dan jangan lupa sesuaikan detailnya.

Tips Menulis Surat Pengunduran Diri Saat Training

Menulis surat pengunduran diri di masa training butuh sedikit kehati-hatian agar tetap terkesan profesional. Berikut beberapa tips yang bisa kamu ikuti:

  1. Gunakan Bahasa Formal dan Profesional: Meskipun gaya artikel ini casual, surat pengunduran diri harus menggunakan bahasa yang baku, sopan, dan profesional. Hindari penggunaan singkatan, emoticon, atau bahasa gaul. Ini adalah dokumen resmi.
  2. Pastikan Data Diri dan Perusahaan Benar: Cek kembali nama lengkapmu, posisi saat ini, nama perusahaan, dan nama penerima surat (HRD atau atasan). Kesalahan kecil bisa mengurangi kesan profesional.
  3. Sebutkan Tanggal Efektif dengan Jelas: Ini sangat penting agar tidak ada kesalahpahaman mengenai hari terakhirmu bekerja. Pastikan tanggal ini sudah didiskusikan atau setidaknya diusulkan setelah kamu berbicara dengan atasan atau HRD. Karena di masa training biasanya tidak ada notice period, tanggal efektif bisa lebih cepat.
  4. Alasan yang Singkat, Positif, atau Umum (Jika Disertakan): Jika kamu memilih untuk mencantumkan alasan, buatlah singkat dan tidak detail. Frasa seperti “alasan pribadi,” “mendapat kesempatan lain,” atau “menemukan jalur karier yang lebih sesuai” sudah cukup. Hindari menyebutkan kekurangan perusahaan, atasan, atau rekan kerja, meskipun itu alasan utamamu. Ini bukan tempatnya untuk curhat atau komplain.
  5. Jaga Nada Positif dan Ucapkan Terima Kasih: Akhiri hubungan kerja dengan baik. Mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, meskipun singkat, akan meninggalkan kesan yang baik.
  6. Baca Ulang (Proofread): Periksa kembali suratmu dari kesalahan pengetikan (typo) atau tata bahasa. Surat yang rapi dan tanpa kesalahan menunjukkan bahwa kamu serius dan profesional.
  7. Cetak atau Kirim Via Email? Tanyakan atau ikuti prosedur perusahaan. Beberapa perusahaan mungkin meminta hard copy, sementara yang lain lebih modern dan menerima via email. Jika via email, pastikan formatnya rapi (bisa dalam badan email atau sebagai lampiran PDF).
  8. Simpan Salinannya: Pastikan kamu punya salinan surat yang sudah kamu serahkan/kirim, terutama jika ada tanda terima atau balasan.

Menulis surat yang baik adalah langkah awal yang tepat dalam proses pengunduran diri yang profesional.

Proses Pengunduran Diri Selain Surat

Surat pengunduran diri hanyalah salah satu elemen dari proses resign. Ada beberapa langkah lain yang tak kalah penting, terutama saat kamu masih dalam masa training.

  1. Diskusi Tatap Muka (Penting!): Idealnya, sebelum menyerahkan surat resmi, kamu berbicara dulu secara pribadi dengan atasan langsungmu atau perwakilan HRD. Sampaikan niatmu untuk mengundurkan diri dan jelaskan secara singkat alasanmu (lagi-lagi, jaga profesionalisme dan hindari komplain negatif). Diskusi ini menunjukkan rasa hormatmu terhadap perusahaan dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk memahami situasimu. Ini juga waktu yang tepat untuk mendiskusikan tanggal efektif pengunduran diri.
  2. Penyerahan Surat Resmi: Setelah berdiskusi lisan, serahkan surat pengunduran diri sesuai tanggal yang kamu tulis. Jika diserahkan langsung, pastikan ada pihak HRD atau atasan yang menerima. Jika via email, pastikan email terkirim ke alamat yang tepat dan cc (carbon copy) atasanmu jika perlu.
  3. Diskusi dengan HRD: HRD biasanya akan menghubungimu untuk proses administrasi pengunduran diri. Ini bisa termasuk:
    • Exit Interview: Mereka mungkin ingin tahu alasanmu lebih detail (ini kesempatan untuk memberikan feedback konstruktif, tapi tetap hati-hati).
    • Administrasi Gaji Terakhir: Mengurus pembayaran gaji terakhir, sisa cuti (jika ada dan sesuai kebijakan), atau hal finansial lainnya.
    • Pengembalian Aset Perusahaan: Mengembalikan laptop, ID card, kunci, atau aset perusahaan lainnya yang kamu pegang.
    • Pengurusan BPJS: Memastikan status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatanmu.
  4. Proses Handover (Serah Terima Pekerjaan): Meskipun masih training dan mungkin belum memegang banyak tanggung jawab, tetap lakukan handover tugas atau informasi yang kamu ketahui kepada atasan atau rekan kerja yang ditunjuk. Buat checklist atau catatan jika perlu. Ini menunjukkan profesionalisme dan tanggung jawabmu sampai hari terakhir.
  5. Menjaga Sikap Profesional: Sampai hari terakhirmu bekerja, tetap jalankan tugas dan tanggung jawabmu dengan baik. Jaga hubungan baik dengan rekan kerja dan atasan. Dunia kerja itu sempit, kesan yang kamu tinggalkan saat keluar bisa berdampak di masa depan.

Proses ini mungkin terasa cepat karena masa training biasanya singkat, tapi melakukannya dengan benar sangat penting. Jangan tiba-tiba menghilang atau hanya meletakkan surat di meja tanpa komunikasi.

Fakta Menarik Seputar Masa Training dan Resign

Ada beberapa fakta dan mitos menarik seputar masa training dan pengunduran diri di periode ini yang sering bikin penasaran.

  1. Masa Percobaan adalah Evaluasi Dua Arah: Banyak yang lupa bahwa masa training atau percobaan bukan hanya perusahaan yang menilai karyawan baru, tapi karyawan baru juga menilai perusahaan. Kamu berhak menentukan apakah tempat itu cocok untukmu.
  2. Durasi Maksimal: Seperti disebutkan sebelumnya, masa percobaan di Indonesia paling lama 3 bulan. Jika lebih dari itu, masa percobaan dianggap tidak ada (batal demi hukum) dan statusmu dianggap karyawan tetap sejak awal bekerja, meskipun belum ada pengangkatan resmi.
  3. Tidak Ada Kewajiban Uang Pesangon: Sesuai UU, pengakhiran hubungan kerja selama masa percobaan oleh salah satu pihak (karyawan atau pengusaha) tidak menimbulkan kewajiban pembayaran uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, atau uang penggantian hak, kecuali ada perjanjian lain.
  4. Kontrak Penting: Fakta terpenting adalah kontrak kerja-mu. Semua aturan spesifik, termasuk potensi penalti jika resign mendadak saat training, harus tertulis jelas di kontrak dan disepakati kedua belah pihak. Jika tidak ada di kontrak, biasanya tidak ada kewajiban penalti (selain mengembalikan aset perusahaan).
  5. Turnover Tinggi di Masa Training: Tidak aneh jika ada karyawan baru yang resign di masa training. Tingkat turnover di periode ini memang cenderung lebih tinggi dibandingkan karyawan yang sudah melewati masa probation. Ini wajar karena proses fitting in atau penyesuaian memang terjadi di awal.
  6. Pengaruh Terhadap Rekrutmen: Perusahaan mencatat tingkat turnover di masa training. Tingkat yang sangat tinggi bisa jadi indikasi ada masalah di proses rekrutmen mereka (deskripsi pekerjaan tidak akurat, wawancara kurang mendalam) atau budaya perusahaan itu sendiri.
  7. Bisa Jadi Pengalaman Berharga: Meski singkat, pengalaman kerja (termasuk training) di sebuah perusahaan tetap bisa menjadi poin di CV-mu, asalkan kamu menyikapinya dengan positif. Kamu bisa belajar banyak hal meskipun hanya dalam waktu singkat.

Memahami fakta-fakta ini bisa membantumu lebih percaya diri dalam mengambil keputusan dan menjalani proses pengunduran diri.

Potensi Konsekuensi Mengundurkan Diri Saat Training

Sebagian orang takut resign saat training karena khawatir ada konsekuensi berat. Sebenarnya, seperti yang dijelaskan di bagian hukum, konsekuensi finansial seperti penalti biaya training hanya berlaku jika hal itu secara eksplisit tertulis dalam kontrak kerja yang kamu tanda tangani dan disepakati bersama.

Jika ada klausul penalti biaya training di kontrak:
Bacalah dengan seksama. Biasanya klausul ini menyebutkan jumlah biaya yang harus diganti jika kamu resign sebelum masa training berakhir atau sebelum jangka waktu tertentu (misal, 6 bulan sejak mulai kerja). Jika ada, kamu berpotensi harus mengganti biaya tersebut. Ini adalah perjanjian perdata yang harus dipatuhi.

Jika tidak ada klausul penalti biaya training di kontrak:
Secara umum, kamu tidak memiliki kewajiban untuk mengganti biaya training atau biaya rekrutmen perusahaan. UU Ketenagakerjaan tidak mengatur kewajiban penggantian biaya training untuk karyawan yang mengundurkan diri di masa percobaan, kecuali memang ada perjanjian spesifik dalam kontrak.

Konsekuensi lain yang mungkin terjadi (meskipun bukan penalti finansial):

  • Tidak Mendapatkan Uang Pesangon/Kompensasi: Ini memang sudah diatur dalam UU untuk masa percobaan. Kamu hanya akan menerima gaji atau upah sampai hari terakhir bekerja.
  • Gaji Terakhir Disesuaikan: Gaji di bulan terakhirmu akan dihitung prorata atau berdasarkan jumlah hari kerja efektif di bulan tersebut. Pastikan perhitunganmu sesuai.
  • Pengaruh pada Relasi: Jika kamu resign mendadak tanpa komunikasi atau tidak profesional, ini bisa merusak reputasimu dan hubunganmu dengan perusahaan serta rekan kerja. Ini konsekuensi non-finansial yang dampaknya bisa jangka panjang.
  • Pertanyaan saat Interview Selanjutnya: Rekruter di tempat lain mungkin akan bertanya kenapa kamu keluar dari pekerjaan sebelumnya padahal baru sebentar dan masih training. Siapkan jawaban yang jujur, positif, dan profesional.

Intinya, konsekuensi finansial paling besar (penalti) sangat bergantung pada isi kontrak kerjamu. Selalu prioritaskan untuk membaca dan memahami kontrak sebelum menandatanganinya.

Pentingnya Profesionalisme Sampai Hari Terakhir

Mengundurkan diri, bahkan di masa training, adalah tentang menjaga reputasi. Dunia kerja itu kecil, lho. Kamu tidak pernah tahu kapan akan bertemu lagi dengan mantan atasan, rekan kerja, atau bahkan recruiter dari perusahaan yang pernah kamu tinggalkan.

Berikut kenapa profesionalisme itu penting sampai hari terakhir:

  1. Membangun Jaringan (Networking): Hubungan baik yang kamu tinggalkan akan memudahkanmu untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang bisa jadi jaringan profesional berharga di masa depan. Mereka mungkin bisa jadi referensi atau bahkan membukakan pintu kesempatan lain.
  2. Referensi Positif: Saat kamu melamar pekerjaan baru, perusahaan baru mungkin akan menghubungi perusahaan lamamu untuk meminta referensi. Jika kamu meninggalkan kesan yang baik, referensi yang diberikan pun akan positif. Sebaliknya, jika kamu keluar dengan cara yang buruk (misal, menghilang begitu saja), ini bisa jadi nilai minus besar.
  3. Kemungkinan Kembali (Jarang, Tapi Bisa): Meskipun jarang, ada kemungkinan kamu melamar lagi di perusahaan yang sama di masa depan untuk posisi yang berbeda atau level yang lebih tinggi. Jika kamu keluar baik-baik, pintu itu tidak tertutup sepenuhnya.
  4. Rasa Hormat pada Diri Sendiri: Menyelesaikan proses pengunduran diri dengan profesional adalah bentuk rasa hormat pada dirimu sendiri dan proses yang sudah kamu jalani. Kamu menunjukkan integritas dan tanggung jawab.
  5. Menghindari Komplikasi Administrasi: Proses handover yang baik dan komunikasi yang lancar dengan HRD akan meminimalkan masalah administrasi di akhir, seperti urusan gaji, BPJS, atau pengembalian aset.

Jadi, meskipun kamu hanya sebentar di perusahaan tersebut, upayakan untuk menyelesaikan semua tanggungan, berkomunikasi dengan baik, dan meninggalkan kesan yang sebaik mungkin.

Jangan Lupa Urus Administrasi

Sebelum benar-benar meninggalkan perusahaan, ada beberapa hal terkait administrasi yang perlu kamu pastikan beres:

  • Gaji Terakhir: Pastikan kamu menerima gaji terakhirmu sesuai perhitungan hari kerja efektif. Tanyakan kapan dan bagaimana proses pembayarannya.
  • BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan: Pastikan status kepesertaan BPJS-mu diupdate. Kartu BPJS Kesehatan biasanya akan dinonaktifkan oleh perusahaan lama setelah kamu berhenti. Kamu perlu mengurus kepesertaan mandiri atau didaftarkan oleh perusahaan baru jika sudah ada. Untuk BPJS Ketenagakerjaan, tanyakan proses klaim JHT (Jaminan Hari Tua) atau Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) jika kamu memenuhi syarat dan berencana tidak langsung bekerja lagi.
  • Pengembalian Aset Perusahaan: Pastikan semua aset milik perusahaan yang kamu gunakan (laptop, HP, ID card, seragam, kunci, dll.) sudah dikembalikan dan statusnya jelas.
  • Dokumen Perusahaan: Jangan membawa dokumen atau data rahasia perusahaan. Ini bisa jadi masalah hukum serius.
  • Surat Pengalaman Kerja (Opsional di Masa Training): Biasanya, surat pengalaman kerja diberikan setelah karyawan melewati masa probation atau bekerja minimal 1 tahun. Namun, tidak ada salahnya menanyakan apakah perusahaan bisa memberikan semacam surat keterangan pernah mengikuti masa training di sana, meskipun singkat. Ini mungkin tidak selalu diberikan, tapi layak dicoba tanyakan.
  • Exit Interview: Jika ada, hadiri exit interview dengan sikap terbuka namun profesional. Berikan feedback yang konstruktif jika diminta.

Mengurus semua detail administrasi ini akan menghindarkanmu dari masalah di kemudian hari dan memastikan transisimu berjalan lancar.

Mengundurkan diri saat masa training memang bukan hal yang ideal, tapi itu adalah bagian dari perjalanan karier. Melakukannya dengan cara yang tepat, dengan surat pengunduran diri yang profesional dan proses yang baik, akan menunjukkan kedewasaan dan profesionalisme yang akan sangat berharga bagimu di masa depan. Fokus pada alasanmu keluar dengan cara yang baik dan melangkah maju ke kesempatan berikutnya.

Bagaimana pengalamanmu? Pernah resign saat masa training? Atau punya pertanyaan lain seputar topik ini? Yuk, share di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar